Berita

Talkshow Festival PESONA 2025 Perhutanan Sosial, Perjuangan Mewariskan Harapan Kelestarian Hutan

20/08/2025 45 Dibaca
 Talkshow Festival PESONA 2025 Perhutanan Sosial, Perjuangan Mewariskan Harapan Kelestarian Hutan

Tanggal Publikasi

20/08/2025

Dibaca

45 Kali

Pada tanggal 20-22 Agustus 2025, Kementerian Kehutanan menggelar Festival Perhutanan Sosial Nasional (PeSoNa) di Gedung Manggala Wanabakti, Jakarta. Salah satu kegiatan dari event ini adalah talkshow. Pada hari pertama festival Pesona, talkshow dilaksanakan dua sesi dengan tajuk “Perhutanan Sosial dan Ketahanan Pangan” serta “Cerita dari Lapangan oleh Kelompok Perhutanan Sosial”.

Pada tanggal 20-22 Agustus 2025, Kementerian Kehutanan menggelar Festival Perhutanan Sosial Nasional (PeSoNa) di Gedung Manggala Wanabakti, Jakarta. Salah satu kegiatan dari event ini adalah talkshow. Pada hari pertama festival Pesona, talkshow dilaksanakan dua sesi dengan tajuk “Perhutanan Sosial dan Ketahanan Pangan” serta “Cerita dari Lapangan oleh Kelompok Perhutanan Sosial”. Acara ini menghadirkan narasumber dan penanggap dari berbagai latar belakang. Pada sesi pertama talkshow, menghadirkan perwakilan dari Direktorat Jenderal Lahan dan Irigasi Pertanian (Kementerian Pertanian), Sekretaris Ditjen Perhutanan Sosial (Kementerian Kehutanan), dan Kepala Dinas Kehutanan Provinsi Lampung. Pemaparan narasumber pada sesi ini ditanggapi oleh Direktur Penganekaragaman Konsumsi dan Keamanan Pangan (Badan Pangan Nasional), Pengembang Padi Protein Tinggi dari Fakultas Pertanian Universitas Sudirman, dan tim penyusun pedoman agroforestry untuk Perhutanan Sosial. Sesi kedua talkshow, memberikan panggung kepada para pelaku Perhutanan Sosial di lapangan yaitu Kelompok Usaha Perhutanan Sosial Padusi Etnobotani (Sumatera Barat), Hutan Kemasyarakatan Masoraian (Kalimantan Tengah), Hutan Tanaman Rakyat Koperasi Produsen Harapan Bersama (Bengkulu), HKm Rengganis (Jawa Timur), dan Hutan Desa Mattabulu (Sulawesi Selatan). Pada sesi kedua talkshow, cerita kesuksesan narasumber ditanggapi oleh Imam Basuki (Wildlife Works Indonesia), Steve Hidayat (Perkumpulan Profesional dan Inovator Kopi Indonesia), dan Maria Christina (NTFP-EP). Perwakilan dari Direktorat Jenderal Lahan dan Irigasi Pertanian, Dr. Saefudin, menekankan pentingnya sinergi antar-kementerian untuk menghadapi krisis pangan global. Dengan program swasembada pangan, pemerintah menargetkan pengembangan padi gogo, optimalisasi lahan, serta pompanisasi untuk meningkatkan produksi nasional. Sementara itu, Sekretaris Ditjen Perhutanan Sosial, Enik Eko Wati, menyampaikan capaian PS hingga Agustus 2025 telah mencapai 8,3 juta hektar yang dimanfaatkan oleh 1,4 juta kepala keluarga. Melalui 15.754 Kelompok Usaha Perhutanan Sosial (KUPS), PS terus mendorong diversifikasi pangan, agroforestry, dan kontribusi pada program Makan Bergizi Gratis. Kontribusi nyata Perhutanan Sosial terhadap ketahanan pangan dipaparkan secara gamblang oleh Kadis Kehutanan Provinsi Lampung yang menyajikan data komoditi unggulan. 9 dari 11 komoditas unggulan Perhutanan Sosial merupakan tanaman pangan yaitu pisang, singkong, kopi, jagung, padi, coklat, kemiri, pala dan aren. Para penanggap sepakat bahwa hutan adalah ekosistem penyedia sumber pangan, baik dalam arti diversifikasi melalui keanekaragaman pangan lokal, intensifikasi melalui berbagai macam pola agroforestry maupun ekstensifikasi dengan penanaman padi lahan kering yang adaptif dibawah berbagai tipe naungan pohon. Dari lapangan, kisah inspiratif datang dari berbagai daerah. Sarno (HTR Koperasi Produsen Harapan Bersama, Bengkulu) menginisiasi program “pohon asuh” dimana dana donasi digunakan untuk kepentingan sosial, pendidikan, dan patroli hutan. Hartono (HKm Rengganis, Jawa Timur) berhasil mengembangkan kopi agroforestry yang menjadikan petani pinggiran mempunyai pendapatan setara bahkan lebih tinggi dari pegawai di perkotaan, tanpa merusak kelestarian hutan. Endri (Hutan Desa Mattabulu, Sulawesi Selatan) menginisiasi ekowisata terpadu dengan menggabungkan wisata kopi (budidaya kopi, proses pengolahan kopi, hingga produk olahan kopi untuk dinikmati), proses pembuatan gula aren, dan budidaya madu. Inovasi ini membawa Mattabulu mendapatkan anugerah 50 besar Desa Wisata 2025 sehingga menarik berbagai mitra strategis untuk bekerja sama. Suci Susanti (KUPS Padusi Etnobotani, Sumatera Barat) menghidupkan kembali kearifan lokal dengan produk herbal tradisional. Keterbatasan akses terhadap fasilitas kesehatan justru menggugah inovasi kelompok ibu-ibu untuk memanfaatkan tanaman herbal di dalam kawasan hutan untuk menyembuhkan berbagai penyakit sebagaimana ajaran nenek moyang terdahulu. Gusti (HKm Masoraian, Kalimantan Tengah) mampu mengubah mantan pembalak liar menjadi pasukan penjaga hutan gambut sebagai habitat orangutan, bekantan, dan satwa endemik lainnya. Kelompok ini berhasil menyelamatkan danau terakhir (1 dari 7 danau) di wilayah ini. Festival PeSoNa 2025 menjadi momentum perayaan keberhasilan Perhutanan Sosial dalam melestarikan hujan dan memperlebar jalan menuju ketahanan pangan. Keberhasilan tidak hanya dinilai secara ekonomi, tetapi juga keberhasilan menjaga hutan gambut sebagai penyerap karbon, menjaga keanekaragaman hayati, keberhasilan kelompok bangkit dari keterpurukan, dan keberhasilan kelompok menjaga kepercayaan anggota sehingga mampu meredam konflik. Seperti tema Festival Pesona 2025, Perhutanan Sosial sejatinya adalah bentuk perjuangan dalam “Merawat Hutan dan Mewariskan Peradaban”.
Informasi Artikel
Kategori
Berita
Dipublikasikan
20/08/2025
Pembaca
45 Orang