Pak Zainuddin adalah sosok petani yang berdomisili di desa Karamabura, Kecamatan Dompu, Kabupaten Dompu, Provinsi Nusa Tenggara Barat. Beliau sangat terinspirasi oleh ucapan Menteri Pertanian pada era Presiden Soeharto, yaitu “Petani Tidak Bisa Miskin”. Ucapan tersebut telah menginspirasi Pak Zainuddin untuk memanfaatkan lahan yang ada di sekitar desanya untuk bercocok tanam berbagai jenis tanaman, baik tanaman kehutanan maupun tanaman pertanian. Pola yang beliau kembangkan dikenal dengan agroforestri. Kemiri, mahoni dan sonokeling merupakan tanaman kehutanan yang tumbuh subur di lahan yang dia kelola.Adapun tanaman bawah tegakan yang ditanam adalah empon-empon, jagung, kopi dan porang. Beragam jenis komoditas tersebut ditanam secara tidak teratur, dan tidak ada pola tertentu yang diterapkan. Dalam pikirannya, yang penting tanaman yang ditanam bisa tumbuh dengan baik.
Kukuh dengan Agroforestri
Pak Zainuddin telah merintis usaha tani agroforestrinya sejak tahun 1991 atau sekitar 30 tahun lalu. Beliau merupakan petani yang tetap kukuh mempertahankan pola agroforestri di lahan garapannya. Sementara itu, petani lainnya telah mengembangkan jagung secara besar-besaran melalui pola monokultur. Jagung tidak hanya dikembangkan di dalam lahan tegalan (baca lahan milik), melainkan merambah hingga kawasan hutan. Hal itulah yang telah menyebabkan kerusakan hutan di wilayah Kabupaten Dompu. Lahan-lahan yang ada di sekitar lahan garapan PakZainuddin telah gundul dan hanya berwarna hijau saat tanaman jagung sedang subur-suburnya tumbuh, namun setelah jagung dipanen, lahan kembali gundul. Hanya sebagian petani yang masih mempertahankan beberapa pohon tanaman kemiri, sonokeling, jabon dan mahoni serta melakukan penanaman ulang dengan buah-buahan pada lahan garapan mereka. Karena itu, membuat lahan agroforestri yang dikelola oleh Pak Zainuddin bagaikan oase di tengah hamparan lahan pertanaman jagung yang gundul tanpa pohon.
Kini, areal kawasan hutan tempat Pak Zainuddin melakukan usaha agroforestri tersebut telah ditetapkan sebagai areal perhutanan sosial dan mendapatkan persetujuan Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan. Kelompok Tani Hutan Ncai Ama Nofi, tempat Pak Zainuddin berhimpun, telah mendapatkan persetujuan pengelolaan Hutan Kemasyarakatan (HKm) pada tahun 2021, berkat fasilitasi yang telah dilakukan oleh Tim Strengthening of Social Forestry in Indonesia Project (SSF Project). Lahan yang dikelola Pak Zainuddin berada pada kawasan Hutan Produksi Terbatas (HPT) di wilayah kerja Balai KPH Toffo Pajo Soromandi.
Agroforestri Memang Menguntungkan
Dalam suatu kesempatan, penulis pernah bertanya kepada Pak Zainuddin, mengapa tidak tertarik untuk mengembangkan jagung dalam skala luas, seperti petani lainnya. Jawabannya cukup mengagetkan karena menurutnya usaha budidaya jagung sejatinya tidak menguntungkan. Usaha tersebut memerlukan biaya yang sangat besar dan tenaga yang banyak, mulai dari persiapan lahan, penanaman hingga pemanenan. Selain itu, harga jualnya juga terlalu rendah.
Untuk usaha taninya, beliau lebih memilih membudidayakan kemiri. Budidaya kemiri tidak memerlukan biaya yang besar. Curahan waktu tenaga kerja pun lebih sedikit. Masa panen buah kemiri juga cukup lama (bisa lima bulan), dan prosesnya mudah, karena tinggal memungut buah yang sudah jatuh. Perawatan tanaman kemiri juga mudah. Berbagai aktivitas yang diperlukan untuk melakukan pemeliharaan dan pemanenan tanamana kemiri dapat dilakukan hanya oleh anggota keluarganya, yaitu istri dan anak-anaknya. Faktor harga juga merupakan salah satu pertimbangan utama yang membuatnya tetap bertahan menanam kemiri. Harga buah kemiri tergolong stabil pada kisaranRp.4.000 hingga Rp. 6.000 per kg. Namun bila buahnya sudah dikupas bisa mencapai harga Rp. 30.000 per kg.
Saat ini, Pak Zainuddin memiliki 350 batang pohon kemiri yang tumbuh di lahan garapannya. Sebagian pohon sudah ditebang dan tumbang terkena angin kencang karena sudah terlalu tua. Terdapat sekitar 30 pohon yang sudah produktif/berbuah dan menghasilkan sekitar 150 kg buah kemiri per batangnya, sehingga dalam satu musim panen, Pak Zainuddin setidaknya dapat meraup pendapatan sebesar Rp. 22.500.000.
Sumber pendapatannya tidak hanya berasal dari hasil kemiri. Berbagai hasil panen lainnya seperti kunyit, jahe, temulawak, temu hitam dan kopi juga menjadi sumber pendapatan keluarga Pak Zainuddin. Berbeda dengan kemiri, masa panen empon-empon (jahe, kunyit, temu lawak dan temu hitam) tidak menentu. Komoditas tersebut biasanya baru dipanen pada saat ada permintaan. Penjualan hasil empon-empon umumnya dilakukan langsung kepada pengepul atau diantar ke pasar. Padi dan jagung juga ditanam di sela tanaman kemiri dan hasilnya lebih digunakan untuk konsumsi sendiri.
Pendapatan yang diperoleh dari hasil penjualan kemiri dan empon-empon sudah lebih dari cukup untuk memenuhi kebutuhan keluarga. Dengan bangga beliau menceritakan bahwa keenam anaknya telah berhasil meraih gelar sarjana berkat usaha agroforestrinya. Selain itu, dua putranya yang lain juga mampu disekolahkan hingga menjadi tentara.
Untuk menambah variasi sumber pendapatan dari lahan garapannya, beliau tidak lekas puas dengan komoditas yang telah ada. Dalam dua tahun terakhir, Pak Zainuddin mulai memperkaya tanamannya dengan aneka jenis tanaman buah-buahan, seperti durian (sekitar 100 pohon), rambutan (5 pohon), klengkeng (12 pohon), nangka (6 pohon), dan alpukat (3 pohon). Bibit tanaman buah-buahan tersebut diperoleh dari hasil pembibitan sendiri dan sebagian diperoleh dari kantor kehutanan (baca Balai KPH).
Pada saat harga jagung turun, seperti yang terjadi saat ini, beberapa tetangganya mulai datang menemuinya dan menggali informasi tentang usaha tani agroforestri. Dengan senang hati, beliau mulai menjelaskan tentang bagaimana manfaat yang diperoleh dari usaha tani yang dikembangkan saat ini. Kepada tetangganya yang datang selalu dipesankan agar tidak semata mengandalkan sumber penghasilan pada satu jenis tanaman, misalanya hanya dari komoditas jagung, dan menganjurkan untuk menanam kemiri karena sesungguhnya sejak dahulu tanaman kemiri merupakan tanaman pokok petani di Karamabura.
Inspirasi dari Pak Zainuddin
Sebagai penutup, penulis berharap semoga apa yang telah diupayakan oleh PakZainuddin dapat menjadi inspirasi dan ditiruoleh petani di Karamabura khususnya dan di Kabupaten Dompu pada umumnya. Pengalaman beliau dalam mengelola lahan garapannya dengan menerapkan pola agroforestri telah terbukti mampu menghidupi keluarganya, bahkan sukses menyekolahkan anaknya hingga perguruan tinggi. Kesuksesan beliau dalam bertani disebabkan oleh kemampuan memilih komoditas yang sesuai secara ekologis dan memiliki prospek pasar. Selain itu ia juga telah menerapkan diversifikasi hasil, melalui pemanfaatan ruang yang ada, sehingga tidak tergantung pada hasil dari satu jenis produk.**